I Putu Suwasta Berikan Dharmawacana di Pura Puseh Giri Mandara

Tubaba (Humas) — , Bertempat Pura Puseh Giri Mandara Tiuh cahyorandu I Putu Suwasta Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat memberikan Dharmawacana pada Pesembahyangan Purnama Sasih Keenam. Dihadiri seluruh umat Hindu Tiuh Cahyo Randu persembahyangan berjalan dengan tertib dan lancar. Pada kesempatan ini Suwasta menyampaikan materi tentang Karang Panes dan cara menetralkannya. Suwaste menjelaskan  Ajaran Agama Hindu Dengan konsep alam semestanya senantiasa menekankan betapa perlu dan pentingnya suatu hubungan yang harmonis yang tercipta antara Manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan manusia/sesamanya (Pawongan) dan manusia dengan alam (Palemahan). Kondisi harmonis itu yang akan menghantarkan umat hindu untuk mencapai tujuan Hidupnya Jagadhita dan Moksa.  

Suwasta menerangkan untuk dapat tercipta kondisi yang harmonis sebelum membangun sebuah rumah pun kita harus memilih pekarangan yang baik, menurut Lontar Tutur Bhagawan Wiswakarna, Bhamakertti, Japakala dan Asta Bumi dijelaskan bentuk dan letak yang baik yang akan dibangun sebuah rumah. Pekarangan merupakan sebidang tanah sebagai tempat mendirikan bangunan di atasnya, khususnya rumah. Bagi umat Hindu, selain rumah, pekarangan juga  sebagai tempat membangun merajan atau sanggah hal itu berdasarkan konsep tri mandala yang diwariskan oleh Mpu Kuturan.  Suwaste menjelaskan, sesuai lontar Astha Bhumi dan Astha Kosala-Kosali, pemilihan suatu tempat untuk bangunan sangat penting,  akan sangat berpengaruh pada para penghuni bangunan tersebut. Jadi Agama Hindu membawa aura positif atau aura kehidupan, seperti kita ketahui setiap agama pasti memiliki pedoman hidup di dalam ajarannya tersebut tentu juga ini berlaku bagi agama Hindu. Jika seseorang mempraktekannya ke dalam kehidupan sehari-harinya maka ia akan mendapatkan kebahagian sesungguh nya.

Bacaan Lainnya

Oleh karena itu, menurut Suwasta sangat penting bagi umat untuk mengetahui dan memahami berbagai macam kategori pekarangan agar bisa mendapatkan manfaat. Astha Kosala-Kosali dan Astha Bhumi merupakan panduan dalam membuat bangunan atau arsitektur. Hal itu wajar saja, mengingat Hindu percaya terhadap energi alam yang berhubungan dengan energdi dalam tubuh manusia yang saling berkaitan. Sehingga, dengan energi yang selaras, kehidupan alam dan manusia akan harmonis. 
Sebelum membuat bangunan, tentunya umat harus punya tanah pekarangan. Nah, berkaitan dengan hal itu, Suwasta mengatakan, ada beberapa jenis pekarangan yang berisiko jika dibangun tempat tinggal.

Beberapa jenis pekarangan itu diantaranya Pertama, disebut Karang Sandang Lawe, yakni pekarangan atau tempat tinggal yang saling berhadap-hadapan di antara dua sisi jalan atau gang. Demikian pula pekarangan yang diapit oleh dua pekarangan yang dimiliki oleh satu orang. Kedua, Karang Teledu Nginyah, yakni pekarangan atau tempat tinggal yang berseberang dalam satu jalan atau gang yang sudut pekarangannya berhadap-hadapan. Ketiga, ada pekarangan yang disebut dengan Karang Ngulonin Banjar utawi Pura, dalam hal ini pekarangan letaknya berdampingan atau berada di bagian hulu bale banjar atau pura. Keempat adalah Karang Kalingkuhan, yakni pekarangan yang ada pada sudut pekarangan tetangga atau pekarangan yang dikelilingi oleh pekarangan tetangga. Kelima disebut dengan Karang Sulanupi, yakni pekarangan yang ada pada pertigaan jalan atau gang. Juga setengah dari pekarangan dilingkari oleh jalan, gang, got, atau sungai. Keenam, ada pakarangan yang disebut dengan Karang Catuspata atau pempatan agung. Pekarangan ini letaknya berhadapan dengan perempatan jalan atau gang. Ketujuh, ada yang disebut dengan Karang Suduk Angga/Karubuhan, yakni pekarangan yang letaknya pada ujung jalan atau gang. Kedelapan, disebut dengan Karang Kuta Kubhanda atau Butha Kabanda, yakni pekarangan yang dikelilingi oleh jalan, gang, got, atau sungai. Pekarangan ini juga tidak baik jika dibangun tempat tinggal begitu saja.

Di samping jenis-jenis pekarangan tersebut, jika ingin membeli tanah untuk pekarangan juga sebaiknya mengetahui asal-usul tanah tersebut. Secara administratif, tentunya menghindari masalah di kemudian hari. Sedangkan secara religius, tentunya berpengaruh kepada ketenangan dan kenyamanan orang yang menempatinya kelak. Di beberapa sumber juga dikatakan jenis pekarangan lain yang perlu diwaspadai atau dihindari  di antaranya adalah tanah bekas terjadi bencana, bekas pura, balai banjar, bekas kuburan, tanah yang warnanya hitam legam dan menimbulkan bau amis, busuk, atau hangus yang tidak wajar. Selain itu, jika mendirikan padma capah dan menstanakan dewa/dewi pada pekarangan umat harus secara rutin mabanten. 
Jika di satu sisi tidak baik dijadikan tempat tinggal, beberapa pekarangan yang telah disebutkan,  justru baik untuk tempat usaha, terutama Karang Kuta Kubhanda atau Butha Kabhanda, Karang Suduk Angga/Karubuhan, Karang Catus Pata, dan Karang Sulanupi. “Semua jenis pekarangan itu tetap wajib dibuatkan caru pamahayu pekarangan,” kata Suwasta. (kemenagtubaba/esw)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *