PAH Non PNS Kecamatan Gunung Terang Sampaikan Dharmawacana

Tubaba (Humas) — , Dharma Wacana Rahina/Hari Purnama Kanem di Pura Puseh Tiuh Mulya Jadi Kecamatan Gunung Terang, Senin 30 November dengan narasumber Ida Kade Suwarjanen Penyuluh Agama Hindu Non PNS Kecamatan Gunung Terang. Kegiatan bimbingan dan penyuluhan yang dilaksanakan setelah kegiatan persembahyangan Purnama tersebut dihadi umat Hindu yang ada di Mulya Jadi, umat masih mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah dengan selalu memakai masker, jaga jarak, mencuci tangan dengan air mengalir yang sudah dipersiapkan oleh pengurus pura sebelum masuk ke area pura melakukan bhakti.

 Dalam pesan Dharmanya Ida Kade terus menghimbau kepada umat yang ada di Tiuh Mulya Jadi untuk selalu menjaga kebersihan dan kesehatan agar semua umat terhindar terjangkit Virus Corona ini. Agar kegiatan keagamaan dan keumatan dapat berjalan dengan baik maka akan dibatasi atau dibagi per gelombang untuk umat yang akan melakukan Sembahyang.
untuk terhindar dari penyebaran Covid-19 ini,  karena Agama Hindu yakin semua wabah yang diberikan Tuhan ini mengingatkan umat manusia untuk selalu hidup bersih dan berperilaku sehat. Apapun kegiatan yang dilaksanakan harus mematuhi protocol kesehatan termasuk upacara agama yg dijalankan, kegiatan sangkep/rapat. Pada kesempatan ini Ida Kade menerangkan tentang arti bija dalam persembahyangan, pasti menggunakan Bija yang berarti semua aspek kehidupan dijiwai oleh Agama Hindu yang tidak lepas dari adanya kekuatan yang melambangkan tahta kehidupan Agama Hindu (metaksu).

Bacaan Lainnya

Ida  Kade menjelasakan bahwa dalam persembahyangan, selain memohon Tirtha, kita juga meminta Bija (mabija atau mawija). Bija atau Wija di dalam bahasa Sansekerta  disebut gandaksata yang berasal dari kata ‘ganda’ dan ‘aksata’,  yang artinya biji padi-padian yang utuh serta berbau wangi. Bija sebagai symbol Kumara untuk menumbuhkan benih Kedewataan, wija atau bija secara sastra terdapat di dalam Lontar Sundarigama. Wija atau Bija berasal dari kata ‘biji’. Sementara Wija adalah lambang Kumara, yaitu putra atau Wija Bhatara Siwa. Pada hakikatnya yang dimaksud dengan Kumara adalah biji atau benih ke-Siwa-an atau Kedewataan yang bersemayam dalam diri setiap orang.

Bija menjadi salah satu bagian proses akhir dari sembahyang, bila sudah mengenakannya di kening berarti  sembah bhakti seseorang telah rampung. Ida Kade Mengatakan  sejatinya makna mabijamebija ini
 adalah menstanakan benih benih kesucian, yakni kesucian dalam pikiran, ucapan dan hati, sehingga menjadi tindak yang indah dan baik  di setiap langkah dalam kehidupan. Bija terbuat dari beras  utuh,  lonjong sempurna, yang melambangkan lingga, stana Siva Mahadeva,  selain itu melambangkan alam semesta.   Bija yang dipakai harus utuh tidak terpotong untuk menumbuhkan sifat Kedewataan (Daiwi-sampat)  agar mampu  mengatasi sifat keraksasaan(Asuri-sampat).

Ida Kade mengungkapkan tempat pemakaian bija mempunyai makna yang berbeda, bila diletakkan di kening  berarti memuja Tuhan dalam wujud Omkara tujuannya agar terfokus pada hal-hal yang suci, doa yang digunakan saat menaruh bija di kening adalah “Om Shriyam Bawanthu,” yang artinya semoga cerdas atas anugerah Hyang Widhi.  Hal ini juga berarti konsentrasi pikiran menuju kesempurnaan Tuhan, orang yang memakai bija diharapkan dapat mewujudan perilaku sattvika, pengasih, dan bijaksana. Bija yang diletakkan di dada dimaksudkan agar  bersemayam kesucian-dengan doa “Om Sukham Bhawanthu”, yang artinya semoga mendapatkan kebahagiaan atas anugerah Hyang Widhi.  Kemudian bija yang ditelan  bermakna bahwa kita menanam benih-benih kesucian dalam diri, selain itu, juga untuk memperoleh anugerah kemakmuran. Doanya saat menelan bija  “Om Purnam Bhawanthu, Om ksama sampurna ya namah swaha”,  yang artinya semoga mendapat kesempurnaan dan pengampunan dari Hyang Widhi. Di ubun ubun diletakkan simbol pertemuan Ardhanareswari atau Siwa Uma, di lelata atau antara dua alis pertemuan jnana dan idep, dan di dada merupakan  pertemuan antara dewa dan atma. Ketiganya disebut tri tatwa, siwa tattwa,widya tatwa ,atma tatwa penempatan bija di pangkal tenggorokan dimaksudkan untuk menguatkan kundalini, yakni tujuh cakra di dalam tubuh. Ketujuh cakra itu memengaruhi fungsi biologis dan fisiologis tubuh, salah satu cakra adalah cakra Ajna  yang terletak di kedua alis. 
Cakra ajna  adalah petemuan tiga pembuluh, yaitu ida, pinggala, dan susumna pertemuan ketiganya ini disebut Triveni. Pembuluh ida (pembuluh bulan) yang dingin mengalir dari bagian kanan cakra Ajna dan berbelok menuju lubang hidung sebelah kiri, semantara pinggala (pembuluh matahari) yang hangat mengalir dari bagian kiri Ajna dan berbelok ke lubang hidung kanan. Ida membawa hawa dingin dan aktif pada malam hari, sedangkan pinggala membawa hawa panas yang aktif pada siang hari. Oleh sebab itu, seseorang yang sehat akan menghembuskan udara yang agak hangat dari lubang hidung kanannya, sementara dari lubang hidung kirinya akan terhembus udara yang agak dingin.  Dalam kaitannya dengan pemakaian bija di kening, seseorang  diharapkan mampu mengaktifkan energi dari ketiga pembuluh tersebut untuk menciptakan kesehatan yang baik yang akan mengalir keseluruh tubuh Mengutip Siva Samhita 113. (kemenagtbb/esw) 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *